Kamis, 18 Februari 2016

Kitab Al-Qur'an

KITAB AL-QUR'AN
https://shafiqolbu.files.wordpress.com/2011/08/al-quran.jpg
Bukti nyata hanya Al Quran kitab suci yang tetap terjaga dan satu-satunya firman Allah yang otentik
Video dialog antara Dr. Zakir Naik dan penanyanya selalu membuat kita berdecak kagum. Betapa tidak, argumen-argumen Cendekiawan Muslim itu selalu membuka tabir kebenaran Islam dengan sangat logis dan mudah dicerna nalar. Termasuk saat ia membuktikan bahwa semua kitab suci dari seluruh agama di muka bumi ini gagal diuji kebenaran mutlaknya, kecuali Al-Quran.
Berikut dialog Dr. Zakir Naik yang Arrahmah kutip dari transkripsi video pada Youtube oleh Baitul Maqdis, Selasa (11/8/2015).
Pertanyaan : Masing-masing agama yang ada sekarang ini mengklaim ilmiah terhadap masing-masing agamanya. Seperti Sri Ravi Shangkar mengklaim ilmiah terhadap agama hindunya. Baba Ramdev dengan agamanya. Dan juga tokoh-tokoh agama kristen mengklaim agamanya sangat ilmiah. Begitu juga dalam islam, bagaimana anda menjawab pertanyaan ini?
Dr.Zakir Naik menjawab :
Anda sering mendengar kata Ilmiah dari saya, Sedangkan Baba Ramdev juga mengatakan bahwa agamanya Ilmiah. Sri Ravi Shangkar juga mengklaim agamanya ilmiah. Bukankah ini membuktikan teori Agama tidak lebih hebat dari penelitian Sains? (karena semuanya bersandar kebenarannya pada teori sains).
Tentang itu, saya setengah setuju dan setengah lagi tidak setuju denganmu. Jika kamu mengklaim sebuah ajaran sebagai firman Tuhan, maka ajaran itu harus bisa teruji disetiap masa dan waktu.
Sebelum ini adalah zamannya mukjizat. Dan Al-Quran adalah mukjizat dari segala mukjizat. Kemudian datanglah zaman puisi dan literatur. Cendekiawan muslim dan non muslim dari kalangan Arab setuju bahwa Quran adalah literatur bahasa Arab terbaik di muka Bumi.
Namun, zaman sekarang adalah zamannya sains. Jika kau menganalisis Al-Quran dengan sains, maka kitab ini begitu sempurna. Tapi dimasa mendatang, bisa jadi orang-orang tidak lagi percaya pada sains.
Jika di zaman sekarang aku memberitahumu, Sebuah kitab suci bercerita secara puitis bahwa bumi itu datar, apakah kamu akan percaya? Pasti tidak percaya. Karena zamannya sekarang bukanlah zamannya para penyair. Namun kamu bisa dapati bahwa Al-Quran itu sangat puitis, penuh dengan mukjizat, dan Ilmu Sains yang sangat ilmiah. Di masa depan mungkin zamannya beda lagi.
Untuk menjawab pertanyaan kamu. Kamu katakan bahwa Baba Ramdev berkata agamanya ilmiah. Kuceritakan, bahwa aku pernah berdebat dengan dokter William Cambell, seorang dokter medis bergelar M.D. (Doktor). Ia berkata bahwa Bible itu ilmiah. Aku bukanlah orang yang suka mengkritik ajaran agama orang lain. Tapi,
Dr.dr.William Cambell menulis sebuah buku mengatakan bahwa ada lebih dari 30 kesalahan ilmiah dalam Al-Quran. Buku ini juga sangat populer, tapi tidak ada responnya.
Sebab itu, aku pergi ke Chicago pada 1 April tahun 2000 untuk melakukan diskusi dengan Dr. William Campbell tentang Quran and Bible in the Light Of Science. Dalam diskusi itu saya telah menjawab semua tuduhannya. Tapi ketika aku menunjukkan 38 kesalahan ilmiah dalam Bible, sebenarnya ada lebih dari ribuan kesalahan ilmiah dalam Bibel. Aku hanya menunjukkan 38 kesalahan, tapi dia tidak bisa menjawab satupun darinya. Jadi ketika kita berdebat kita akan tahu seberapa ilmiahkah sebuah agama. Hanya karena Bibel mengatakan 10 hal ilmiah, hai ini tidak menjadikan Kitab Bibel itu benar (firman Tuhan).
Kita harus menganalisa semuanya, jika didapati satu hal yang tidak ilmiah didalamnya, maka itu sudah menjadi cukup bukti bahwa Bibel bukanlah firman Tuhan.
Aku menantang semua orang, untuk menunjukkan satu hal saja yang tidak ilmiah dalam Al-Quran, berupa fakta ilmiah, bukan hipotesis. Satu ayat saja dalam Al-Quran yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan sudah menjadi fakta.
Aku telah banyak menjelaskan hal-hal yang tidak ilmiah dalam Bible. Dan juga aku bisa jelaskan banyak hal yang tidak ilmiah dalam Wedha. Lalu aku tantang seluruh tokoh-tokoh agama, seperti Dr.dr.Willliam Campbell, Benny Hinn, Billy Graham agar meraka datang dan membuktikan bahwa yang aku katakan salah.
Sebagai contoh saja, Wedha berkata bahwa matahari berputar mengelilingi bumi. Tentu ini tidak sesuai dengan fakta ilmiah sekarang. Ini membuktikan bahwa dalam kitab Wedha memang ditemukan ayat yang membicarakan tentang Sains. Jika ada ribuan ayat dalam kitab itu, 50 persennya membicarakan sains dan 50 persen lagi darinya bertentangan dengan fakta ilmiah sains, maka aku tidak akan percaya pada kebenaran kitab suci itu.
Jadi ketika anda melakukan uji ilmiah terhadap semua kitab agama yang ada, maka kamu akan mendapatkan seluruh kitab agama itu gagal kecuali Al-Quran.
Aku yang mengatakan itu, karena aku adalah akademisi dalam bidang perbandingan ilmu agama. Jadi, ketika anda melakukan uji sains, hal itu tidak berarti kitab lain tidak punya fakta ilmiah. Mereka juga punya!. Tapi itu telah tercampur. Seperti yang kukatakan, Bibel mungkin juga punya fakta ilmiah. Ayat-ayat di Bibel yang sesuai dengan sains mungkin adalah firman Tuhan, tapi yang tidak sesuai dengan fakta sains, mungkin juga karena kesalahan, interpolasi atau ayat yang dipalsukan.
Allah berfirman : Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), ( Qs. Ar-Radu : 38 39)
Ada 4 kitab suci yang disebut dalam Al-Quran. Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran. Taurat adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Injil adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. Zabur adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Daud. Sedangkan Al-Quran, kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Tapi, sebenarnya ada banyak sekali wahyu yang diturunkan sebelum 4 kitab suci itu diturunkan.
Karena sangat banyak sekali jumlah Nabi yang berjumlah 124 ribu Nabi, dan 25 diantaranya disebutkan dalam Al-Quran nama-namanya.
Namun semua wahyu yang datang sebelum Al-Quran hanya diperuntukkan untuk kaum tertentu pada saat itu. Seperti Injil, kitab suci yang hanya diperuntukkan untuk Bani Israil dan tidak diperuntukkan untuk seluruh umat manusia. Makanya Tuhan tidak menjaganya sampai ke zaman sekarang. Begitu juga dengan kitab-kitab yang lain selain Al-Quran. Karena Al-Quran diturunkan bukan untuk orang arab saja, tapi untuk seluruh umat manusia dimana saja mereka berada.
Sebagaimana diberitahukan Allah dalam firman-Nya :
Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada menge-tahui.[QS. Saba, 34: 28]
Karena Al-Quran diturunkan untuk seluruh umat manusia selama-lamanya, maka Tuhan pun selalu menjaga keasliannya. Sebab itu kita semua tidak akan mendapatkan sedikitpun kesalahan dalam Al-Quran. Namun, kitab-kitab suci lain bisa jadi benar firman Tuhan, namun telah diubah-ubah oleh manusia. Karena kitab-kitab itu tidak diperuntukan kepada seluruh manusia, maka Allah tidak menjaganya.
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
(Qs: Al-Hijr: 9)
Inilah perbedaan mendasar Al-Quran dengan kitab-kitab lain. Ketahuilah bahwa seluruh nabi-nabi sebelum diutusnya Nabi Muhammad, seperti, Adam, Yesus, Musa, Ibrahim dan yang lainnya, mereka diutus hanya untuk kaummnya pada saat itu saja. Karena kami tetap menghormati dan mencintai mereka. Karena kita hidup di zaman Nabi Muhammad, maka kita harus mengikutinya. Sebab ia adalah penutup para Nabi dengan wahyu yang terakhir yaitu Al-Quran.
Jadi Al-Quran lah yang patut dibanggakan bukan sains/teknologi. Karena Al-Quran lebih dulu ada sebelum fakta sains dan teknologi diciptakan.
Al-Quran adalah kitab penuh dengan mukjizat, literatur bahasa arab terbaik dan sesuai dengan sains. Mungkin dimasa depan zamannya berbeda lagi. Tidak seperti sekarang yang seakan kebenaran selalu diukur dengan sains dan teknologi. Tapi bagaimanapun kondisi masa depan, maka Al-Quran sebagai firman Tuhan akan membuktikan kebenaran dirinya.

Source : sekilasweb.wordpress.com

Rabu, 17 Februari 2016

Hukum Bersalaman dengan yang Bukan Mahram dalam Islam


Memahami Hukum Bersalaman Dengan Bukan Mahram
https://sansrise.files.wordpress.com/2014/08/jabat-tangan.jpg?w=533&h=300
Gejala Ikhtilath (percampuran di antara kaum lelaki dengan wanita) semakin dianggap perkara biasa. Mereka saling bersentuhan kulit, bersalaman tangan, bertepuk-tampar, bersenda-gurau, sehingga ada yang berpelukan sesama sendiri tanpa timbul sebarang rasa bersalah. Lebih merisaukan apabila ada yang menganggap bahawa ia tidak termasuk kesalahan di sisi agama. Di antara sebab-sebab perkara ini terus berleluasa mungkin adalah kerana faktor lemahnya iman, budaya persekitaran yang penuh syubhat, terkesan dengan pelbagai adegan filem dan drama, dan ketidak-tahuan mereka terhadap dalil-dalil berkaitan yang menjelaskan persoalan tersebut secara jelas.
Di samping adanya beberapa fatwa meragukan dari tokoh-tokoh tertentu masakini yang mengharuskan bersalaman di antara lelaki dan wanita ajnabiyah (bukan mahram) dalam keadaan tertentu. Ini adalah sebagaimana yang diutarakan dan ditunjukkan antaranya oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi berpandukan beberapa tafsiran dan takwilan yang dikemukakannya. Apa pun, fatwa beliau tersebut wajar ditinggalkan dengan mendahulukan apa yang telah jelas dan bebas dari syubhat sebagaimana ditunjukkan oleh akhlak Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam dan para sahabatnya sebagaimana dalil-dalil yang bakal dikemukakan.
Dalil pertama
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
ﻷﻥ ﻳﻄﻌﻦ ﻓﻲ ﺭﺃﺱ ﺭﺟﻞ ﺑﻤﺨﻴﻂ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺪ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻤﺲ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻻ ﺗﺤﻞ ﻟﻪ
Sekiranya kepala salah seorang daripada kamu ditusuk dengan jarum besi, itu adalah lebih baik bagi kamu daripada kamu menyentuh wanita yang tidak halal bagi kamu. (Hadis Riwayat ath-Thabrani. Dinilai sahih oleh al-Mundziri, al-Haitsami, dan al-Albani)
Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, Pada hadis ini terdapat ancaman yang keras (tegas) kepada sesiapa sahaja yang menyentuh wanita ajnabiyah (yang bukan mahram). Padanya juga terdapat dalil atas haramnya bersalaman (mushofahah) dengan wanita. Sebab itu, tidak diragukan bahawa bersalaman itu mengandungi unsur bersentuhan. Pada masa ini, umat Islam banyak diuji dengan situasi ini, dan di antara mereka adalah dari kalangan ahli ilmu. Sekiranya mereka mengingkari perkara tersebut dengan hati mereka, tentu ada sedikit kemudahan untuk menasihati mereka. Tetapi sayangnya, mereka menghalalkan perkara tersebut dengan pelbagai cara (jalan) dan takwilan (penafsiran). (Rujuk: al-Albani, as-Silsilah ash-Shahihah, 1/225)
Dalil Kedua
Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﻧَﺼِﻴﺒُﻪُ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺰِّﻧَﺎ ﻣُﺪْﺭِﻙٌ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﺎ ﻣَﺤَﺎﻟَﺔَ ﻓَﺎﻟْﻌَﻴْﻨَﺎﻥِ ﺯِﻧَﺎﻫُﻤَﺎ ﺍﻟﻨَّﻈَﺮُ ﻭَﺍﻟْﺄُﺫُﻧَﺎﻥِ ﺯِﻧَﺎﻫُﻤَﺎ ﺍﻟِﺎﺳْﺘِﻤَﺎﻉُ ﻭَﺍﻟﻠِّﺴَﺎﻥُ ﺯِﻧَﺎﻩُ ﺍﻟْﻜَﻠَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻴَﺪُ ﺯِﻧَﺎﻫَﺎ ﺍﻟْﺒَﻄْﺶُ ﻭَﺍﻟﺮِّﺟْﻞُ ﺯِﻧَﺎﻫَﺎ ﺍﻟْﺨُﻄَﺎ ﻭَﺍﻟْﻘَﻠْﺐُ ﻳَﻬْﻮَﻯ ﻭَﻳَﺘَﻤَﻨَّﻰ ﻭَﻳُﺼَﺪِّﻕُ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻔَﺮْﺝُ ﻭَﻳُﻜَﺬِّﺑُﻪُ
Persoalan anak Adam berkaitan zina telah ditentukan. Tidak mustahil ia pasti melakukannya. Dua mata berzina dengan melihat, dua telinga berzina dengan mendengar, lidah berzina dengan berkata-kata, tangan berzina dengan menyentuh, kaki berzina dengan melangkah, hati berzina dengan angan-angan (kehendak), dan kemaluanlah yang akan membenarkan (merealisasikan) atau mendustakan semua itu. (Sahih: Hadis Riwayat Muslim)
Kaedah pengambilan dalil dari hadis ini adalah berdasarkan sabda Rasulullah,
ﻭَﺍﻟْﻴَﺪُ ﺯِﻧَﺎﻫَﺎ ﺍﻟْﺒَﻄْﺶُ
... dan tangan berzina dengan menyentuh. (Dari hadis di atas)
Dalam riwayat Ahmad disebutkan,
ﻭَﺍﻟْﻴَﺪُ ﺯِﻧَﺎﻫَﺎ ﺍﻟﻠَّﻤْﺲُ
... dan tangan berzina dengan menyentuh.
Dalam riwayat Ibnu Hibban juga disebutkan,
ﻭَﺍﻟْﻴَﺪُ ﺯِﻧَﺎﺅُﻫَﺎ ﺍﻟﻠَّﻤْﺲُ
... dan tangan berzina dengan menyentuh.
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan, Makna hadis di atas adalah bahawa setiap anak Adam itu mungkin ada yang ditakdirkan untuk melakukan perbuatan zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina dengan sebenar-benarnya, yaitu dengan memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan wanita secara haram. Di antara mereka ada yang zinanya secara majaz (kiasan), iaitu dengan melihat perkara-perkara yang haram, atau dengan mendengar sesuatu yang mengajak kepada perzinaan dan usaha-usaha untuk melakukan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan, atau menyentuh wanita ajnabiyah (yang bukan mahram) dengan tangannya, atau menciumnya. Atau dengan melangkah kaki menuju tempat perzinaan, melihat, menyentuh, atau berkata-kata dengan cara yang haram bersama dengan wanita ajnabiyah (yang bukan mahram), atau berangan-angan (imaginasi atau berniat) dengan hatinya. (an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 16/206)
Dalil ketiga
Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam tidak pernah bersalaman dengan wanita yang bukan mahram baginya walaupun dalam perlaksanaan proses baiat. Secara umumnya tuntutan proses ini berlaku dengan cara bersalaman, iaitu apabila dilakukan di antara Nabi dengan para sahabat lelaki yang lain.
Umaimah Binti Ruqaiqah menyatakan,
ﺃﺗﻴﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﻧﺴﺎﺀ ﻟﻨﺒﺎﻳﻌﻪ، ﻓﺄﺧﺬ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ : } ﺃَﻥْ ﻻ ﻳُﺸْﺮِﻛْﻦَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ { ﺍﻵﻳﺔ، ﻭﻗﺎﻝ : " ﻓﻴﻤﺎ ﺍﺳﺘﻄﻌﺘﻦ ﻭﺃﻃﻘﺘﻦ " ، ﻗﻠﻨﺎ : ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻨﺎ ﻣﻦ ﺃﻧﻔﺴﻨﺎ، ﻗﻠﻨﺎ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ، ﺃﻻ ﺗﺼﺎﻓﺤﻨﺎ؟ ﻗﺎﻝ " ﺇﻧﻲ ﻻ ﺃﺻﺎﻓﺢ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ، ﺇﻧﻤﺎ ﻗﻮﻟﻲ ﻻﻣﺮﺃﺓ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻛﻘﻮﻟﻲ ﻟﻤﺎﺋﺔ ﺍﻣﺮﺃﺓ
Aku pernah pergi menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersama beberapa orang wanita untuk melakukan baiat (perjanjian taat setia) kepada beliau. Maka beliau pun membaiat kami dengan apa yang terdapat dalam al-Quran, iaitu kami tidak boleh mensyirikkan Allah dengan segala sesuatu. Lalu beliau bersabda, Iaitu berkenaan dengan apa yang kamu mampu dan sanggupi.
Maka kami pun berkata, Allah dan Rasul-Nya yang lebih menyayangi kami daripada diri kami sendiri. Seterusnya kami bertanya, Wahai Rasulullah, tidakkah kita perlu bersalaman?
Beliau menjawab, Sesungguhnya aku tidak bersalaman dengan wanita. Ucapanku kepada seorang wanita bersamaan dengan untuk seratus orang wanita. (Sahih: Hadis Riwayat Ahmad)
Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syanqithi rahimahullah berkata, Bahawasanya telah tsabit daripada Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam beliau bersabda, Sesungguhnya aku tidak pernah bersalaman dengan kaum wanita. Dan Allah telah berfirman, Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu contoh tauladan yang baik. Dengan itu, demi untuk mencontohi (mengikuti) beliau Shallallahu alaihi wa Sallam, maka kita tidak bersalaman tangan dengan wanita ajnabiyah... dan sikap beliau Shallallahu alaihi wa Sallam yang tidak bersalaman tangan dengan wanita di ketika melakukan baiah adalah merupakan dalil yang sangat jelas bahawa seseorang lelaki tidak boleh bersalaman tangan dengan wanita yang bukan mahramnya dan tidak dibenarkan sama sekali dari anggota badannya menyentuhnya. Ini adalah kerana bentuk sentuhan yang paling ringan adalah dengan bersalaman. Apabila Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam sendiri enggan untuk bersalaman dengan wanita ajnabiyah di ketika waktu-waktu yang sangat diperlukan untuk bersalaman iaitu di ketika waktu berbaiah, maka ini menunjukkan bahawa bersalaman tangan dengan kaum wanita ajnabiyah adalah tidak dibenarkan. Sesiapa pun tidak wajar untuk menyelisihi beliau. Kerana beliau adalah yang menetapkan syariat untuk umat beliau sama ada dengan ucapan, perbuatan, ataupun pembenaran (taqrir). (al-Amin asy-Syanqitihi, Adhwaul Bayan fii Idhahal Quran bil Quran, 6/256)
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, Perkataan (suara) wanita ajnabiyah boleh kita dengari apabila ada keperluan, dan suaranya tidak termasuk aurat (apabila tidak berlebih-lebihan pent.). Menyentuh kulit wanita ajnabiyah tidak dibolehkan tanpa adanya alasan darurat seperti sebab perubatan, pendarahan, bekam, mencabut gigi, dan seumpamanya, di mana apabila tiada wanita yang boleh melakukannya. Maka pada ketika itu lelaki yang bukan mahram dibenarkan melakukannya atas faktor keterpaksaan tertentu. (Imam an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 13/10)
Beliau juga berkata, Disebabkan melihat wanita yang bukan mahram itu diharamkan (terdapat perintah menundukkan pandangan pent.), sudah tentu menyentuh kulitnya lebih diharamkan lagi. Ini adalah kerana menyentuh lebih mudah membangkitkan syahwat. (Imam an-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftiin, 7/27)
Demikianlah antara dalil-dalil utama dan penegasan para ulama ahlus Sunnah wal-jamaah dalam persoalan hukum bersentuhan kulit (termasuk bersalaman) di antara lelaki dengan wanita bukan mahram yang disengajakan. Sama ada berlapik atau bersarung tangan, maka ia tetap terlarang. Tidak pernah pula dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam. Walau bagaimanapun, bersalaman atau bersentuhan di antara suami dengan isteri adalah dibenarkan walaupun dalam keadaan berwudhu dan tidak terbatal wudhu mereka. Semoga kita selaku umat Islam diberikan kemudahan untuk memahami persoalan ini dengan baik. Sekiranya bersalaman dan bersentuhan pun termasuk perkara yang terlarang, fikirkanlah yang melampau dari itu! Wallahu alam...

Source : http://an-nawawi.blogspot.com



Selasa, 16 Februari 2016

Hukum Menyambung Rambut dalam Islam


HUKUM MENYAMBUNG RAMBUT,REBONDING DAN MENGECAT RAMBUT
Jika kita lihat, sekarang ini kebanyakan orang sudah biasa kayak gini..modern kali ya..
yuk..simak menurut pandangan islam
MENYAMBUNG RAMBUT
Termasuk perhiasan perempuan yang terlarang ialah menyambung rambut dengan rambut lain, baik rambut itu asli atau imitasi seperti yang terkenal sekarang ini dengan nama wig.
Imam Bukhari meriwayatkan dari jalan Aisyah, Asma, Ibnu Masud, Ibnu Umar dan Abu Hurairah sebagai berikut: Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang menyambung rambut atau minta disambungkan rambutnya.
Bagi laki-laki lebih diharamkan lagi, baik dia itu bekerja sebagai tukang menyambung seperti yang dikenal sekarang tukang rias ataupun dia minta disambungkan rambutnya, jenis perempuan-perempuan wadam (laki-laki banci) seperti sekarang ini.
Persoalan ini oleh Rasulullah s.a.w, diperkeras sekali dan digiatkan untuk memberantasnya. Sampai pun terhadap perempuan yang rambutnya gugur karena sakit misalnya, atau perempuan yang hendak menjadi pengantin untuk bermalam pertama dengan suaminya, tetap tidak boleh rambutnya itu disambung.
Aisyah meriwayatkan: Seorang perempuan Anshar telah kawin, dan sesungguhnya dia sakit sehingga gugurlah rambutnya, kemudian keluarganya bermaksud untuk menyambung rambutnya, tetapi sebelumnya mereka bertanya dulu kepada Nabi, maka jawab Nabi: Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya. (Riwayat Bukhari)
Asma juga pernah meriwayatkan: Ada seorang perempuan bertanya kepada Nabi s.a.w.: Ya Rasulullah, sesungguhnya anak saya terkena suatu penyakit sehingga gugurlah rambutnya, dan saya akan kawinkan dia apakah boleh saya sambung rambutnya? Jawab Nabi: Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang minta disambungkan rambutnya. (Riwayat Bukhari)
Said bin al-Musayib meriwayatkan: Muawiyah datang ke Madinah dan ini merupakan kedatangannya yang paling akhir di Madinah, kemudian ia bercakap-cakap dengan kami. Lantas Muawiyah mengeluarkan satu ikat rambut dan ia berkata: Saya tidak pernah melihat seorangpun yang mengerjakan seperti ini kecuali orang-orang Yahudi, dimana Rasulullah s.a.w. sendiri menamakan ini suatu dosa yakni perempuan yang menyambung rambut (adalah dosa).
Dalam satu riwayat dikatakan, bahwa Muawiyah berkata kepada penduduk Madinah: Di mana ulama-ulamamu? Saya pernah mendengar sendiri Rasulullah s.a.w. bersabda: Sungguh Bani Israel rusak karena perempuan-perempuannya memakai ini (cemara). (Riwayat Bukhari) Rasulullah menamakan perbuatan ini zuur (dosa) berarti memberikan suatu isyarat akan hikmah diharamkannya hal tersebut.
Sebab hal ini tak ubahnya dengan suatu penipuan, memalsu dan mengelabui. Sedang Islam benci sekali terhadap perbuatan menipu; dan samasekali antipati terhadap orang yang menipu dalam seluruh lapangan muamalah, baik yang menyangkut masalah material ataupun moral.
Kata Rasulullah s.a.w.: Barangsiapa menipu kami, bukanlah dari golongan kami. (Riwayat Jamaah sahabat) Al-Khaththabi berkata: Adanya ancaman yang begitu keras dalam persoalan-persoalan ini, karena di dalamnya terkandung suatu penipuan. Oleh karena itu seandainya berhias seperti itu dibolehkan, niscaya cukup sebagai jembatan untuk bolehnya berbuat bermacam-macam penipuan.
Di samping itu memang ada unsur perombakan terhadap ciptaan Allah. Ini sesuai dengan isyarat hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud yang mengatakan “… perempuan-perempuan yang merombak ciptaan Allah. Yang dimaksud oleh hadis-hadis tersebut di atas, yaitu menyambung rambut dengan rambut, baik rambut yang dimaksud itu rambut asli ataupun imitasi. Dan ini pulalah yang dimaksud dengan memalsu dan mengelabui.
Adapun kalau dia sambung dengan kain atau benang dan sabagainya, tidak masuk dalam larangan ini. Dan dalam hal inf Said bin Jabir pernah mengatakan: Tidak mengapa kamu memakai benang. Yang dimaksud [tulisan Arab] di sini ialah benang sutera atau wool yang biasa dipakai untuk menganyam rambut (jw. kelabang), dimana perempuan selalu memakainya untuk menyambung rambut. Tentang kebolehan memakai benang ini telah dikatakan juga oleh Imam Ahmad.
HUKUM REBONDING & MENGECAT RAMBUT
Adapun hukum rebonding itu hampir sama dengan meluruskan rambutdalam surat An Nissa ayat 119 yang artinya ;Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.
Ayat ini dapat diartikan juga bahwa Syetan berusaha untuk menyesatkan umat Islam agar merubah agama Allah SWT, dan kata mengubah ini sangat luas bila dijabarkan.Mengubah agama Allah juga sama dengan mengubah ciptaan Allah. Salah satunya adalah meluruskan, mengkeriting atau menyambung rambut. Bila kita punya rambut keriting, ikal, berombak atau lurus maka itulah yang harus kita syukuri bukan untuk kita keluhkan.
Pada dasarnya hukum segala sesuatu itu boleh sampai ada dalil yang jelas untuk melarangnya. Dalam urusan rambut wanita, memang ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan, termasuk larangan-larangannya. Namun sejauh ini, dalam masalah rebonding untuk suami dan tetap tertutup dengan jilbab, kami belum menemukan larangannya secara sharih.
Yang terlarang dalam masalah rambut adalah sebatas larangan menyemir dengan warna hitam atau menghitamkan. Hal itu sering dilakukan orang yang telah beruban, karena malu disebut sudah tua, banyak orang menyemir dengan warna hitam. Dan yang lain adalah memakai rambut palsu. Sedangkan mengeriting atau merobaoundnya tidak termasuk yang disebutkan dalam nash syar`i.
Keharam Mengecatan Rambut dengan Warna Hitam
Dalam hal ini ada sabda Rasulullah SAW :Orang Yahudi dan Nashara tidak menyemir rambut, maka kamu berbedalah dengan mereka (HR Bukhari)
Sesungguhnya sebaik-baik alat yang kamu pergunakan untuk mengubah warna ubanmu adalah hinna` dan katam (HR at-Tirmidzi dan Ashabus Sunnan).
Hinna` adalah pewarna rambut berwarna merah sedangkan katam adalah pohon Yaman yang mengeluarkan zat pewarna hitam kemerah-merahan.
Namun demikian, untuk tujuan tertentu dibolehkan untuk mengecat rambut putih dengan warna hitam, meski para ulama berbeda pendapat dalam rinciannya :
Ulama Hanabilah, Malikiyah dan Hanafiyah menyatakan bahwasanya mengecat rambut dengan warna hitam dimakruhkan kecuali bagi orang yang akan pergi berperang karena ada ijma` yang menyatakan kebolehannya.
Abu yusuf dari ulama Hanafiyah berpendapat bahwasanya mengecat rambut dengan warna hitam dibolehkan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW : ?Sesungguhnya sebaik-baiknya warna untuk mengecat rambut adalah warna hitam ini, karena akan lebih menarik untuk istri-istri kalian dan lebih berwibawa di hadapan musuh-musuh kalian? (Tuhfatul Ahwadzi 5/436)
Ulama Madzhab syafi?I berpendapat bahwasanya mengecat rambut dengan warna hitam diharamkan kecuali bagi orang-orang yang akan berperang. Hal ini didasarkan kepada sabda Rasulullah SAW: ?Akan ada pada akhir zaman orang-orang yang akan mengecat rambut mereka dengan warna hitam, mereka tidak akan mencium bau surga? (HR. Abu Daud, An-NasaI, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Source:https://m.facebook.com/notes/club-curhat-muslim-dan-muslimah/menyambung-rambutrebonding-dan-mengecat-rambut/186412518068752/